Space Iklan

banner adsbanner adsbanner adsbanner ads

Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Berita Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Dalam Negeri. Tampilkan semua postingan

Setelah Merapi, Kini Bromo Mengancam


Status Gunung Bromo naik dari Siaga ke Awas dalam tempo kurang dari 24 jam. Dalam waktu kurang dari 24 jam, status Bromo naik dua tingkat, Waspada jadi Siaga, lalu naik ke level tertinggi, Awas, pada Selasa 23 November 2010 pukul 23.00 WIB. Kenaikan status Bromo lebih cepat dibandingkan Merapi. Butuh empat hari bagi Merapi sebelum mencapai level Awas, pada 25 Oktober 2010.
Tak ingin mengulang tragedi Merapi, tindakan antisipatif Bromo segera dilakukan. Wilayah radius 3 kilometer dari kawah disterilkan dari warga, juga wisatawan. Kepala Dinas ESDM Pemprov Jatim, Dewi J. Putriatni mengatakan, sterilisasi kaldera lautan pasir dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban.
Apalagi, berdasarkan pantauan, Bromo saat ini mengeluarkan asap putih setinggi 300 meter yang mengarah ke utara. Kata Dewi, asap itu mengandung racun yang bisa membahayakan manusia.
Pemerintah Malang juga siap siaga. Terutama di Kecamatan Poncokusumo yang paling dekat dengan Bromo. Evakuasi disiapkan bila Bromo meletus. Masker siap dibagikan, sementara dapur umum lengkap dengan beras 100 ton siap dioperasikan.
Dalam hal pendanaan, Pemerintah Jawa Timur bergerak cepat. Anggaran bencana dinaikkan menjadi Rp50 miliar untuk antisipasi hal-hal tak diinginkan. Posko utama didirikan, sejumlah relawan ditarik dari Merapi. Masyarakat diminta mengemas barang-barang berharga, bersiap untuk mengungsi.
Tanpa wedhus gembel
Berdasarkan pantauan seismik di pos pengamatan Gunung Bromo, Cemoro Lawang, Ngadisari Kecamatan Sukapura Probolinggo Rabu (24/11) pukul 09.45, ketinggian asap mencapai kisaran 150 hingga 200 meter. Kondisi ini jauh menurun dibandingkan dengan kondisi pagi hari yakni 200 hingga 350 meter.
Sedangkan gempa tremor Rabu siang hanya 2 hingga 3 milimeter. Menurun dibanding hari sebelumnya mencapai 5 hingga 30 milimeter. "Kondisinya saat ini kondisinya cenderung menurun. Baik secara visual maupun seismik," kata salah satu petugas pos pengamatan Gunung Bromo, Ahmad Subhan.
Ada dua kemungkinan. Aktivitas Bromo turun, atau justru gunung ini sedang menabung energi. "Yang patut diwaspadai adalah kemungkinan kedua. Karena ditakutkan sewaktu-waktu energi yang dikumpulkan dimuntahkan secara tiba-tiba," jelasnya.
Sementara, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono meminta masyarakat tak panik, namun waspada.
Dijelaskan dia, Gunung Bromo tidak sebahaya ancaman erupsi Merapi. Sebab, karakternya beda. Letusan Bromo bersifat freatik (semburan uap air dan gas bercampur abu halus), bukan eksplosif (letusan) seperti Merapi.
“Paling-paling hanya pasir dan abu yang mengganggu kenyamanan. Tidak ada pengungsian, hotel-hotel di sekitar Bromo juga dipersilakan tetap buka," ujar Surono saat ditanyai terkait peningkatan status Bromo di kantor BPPTK Yogyakarta, Selasa malam.
Bromo, dikatakan Surono, juga tidak mengeluarkan bahaya primer awan panas ‘wedhus gembel’ yang suhunya bisa mencapai 600 derajat celsius seperti halnya Merapi. "Biasanya, erupsi Bromo berlangsung cepat. Mudah-mudahan kali ini tidak tinggi," kata dia.
Bagaimanapun, antisipasi tetap dilakukan. Apalagi Bromo telah merenggut nyawa ketika erupsi kali terakhir pada 2004. Saat itu, Bromo meletus pada Selasa 8 Juni 2004 sekitar pukul 15.20 WIB. Gunung itu memuntahkan asap hitam bercampur kerikil dan abu setinggi 3 kilometer ke angkasa.

Dua wisatawan tewas tertimbun pasir. Mereka ditemukan tergeletak di bawah anak tangga menuju kawah Bromo. Lima lainnya mengalami luka-luka.
Hujan pasir berwarna cokelat turun di Probolinggo dan Malang yang nampak gelap hari itu. Letusan besar Bromo di abad ke-20 terjadi pada 1974.


‘Gunung Brahma’ yang disucikan
Serupa dengan arti Merapi bagi masyarakat di sekitarnya, Bromo juga bukan sekedar gunung – permukaan tanah yang menonjol.  Bagi masyarakat Tengger, Bromo yang berasal dari nama Brahma, dewa utama Hindu, adalah gunung suci.
Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncaknya.
Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.
Keyakinan pada Bromo juga membuat masyarakat setempat memilih bertahan, apapun kondisi ‘Gunung Brahma’ itu. Menurut Wati (35), warga Dusun Ngadisari, Sukapura, ini kondisi biasa terjadi.  “Tidak akan berdampak bagi kami. Dan kami tidak takut, pasti aman," katanya.
Hal senada juga diungkapkan Suroto, pengemudi angkot. Kata dia, tak perlu khawatir. "Kemarin kan diumumkan status Awas, ya cuma diumumkan saja. Buktinya kondisi aman dan dampaknya tidak akan ke sini tetapi ke daerah lain. kalau hanya hujan abu, itu sudah biasa. Kami percaya pada yang maha kuasa, disini pasti akan aman," ujar Suroto.
Turis masih datang
Status Awas Bromo tak membuat surut wisatawan yang ingin menikmati keindahannya. Foto satelit kalderanya dinobatkan sebagai salah satu paling cantik dari seluruh gunung di dunia.
Kemampuannya menarik turis juga masih mumpuni. Hari Rabu, setelah Bromo berstatus Awas, masih banyak turis datang dan mengamati Gunung Bromo dari Penanjakan, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Ada dari Jakarta, Kalimantan, bahkan jauh-jauh datang dari luar negeri.
Bahkan, empat turis asal Belgia harus dihalau turun. Mereka nekat menaiki tangga ke arah bibir kawah.
Dari Jakarta, Menteri Pariwisata, Jero Wacik mengeluarkan imbauan. "Sekarang jangan pergi dulu, jangan kesana dulu, jangan dekat-dekat. Tapi kalau melihat dari jauh, dari 3 kilometer lebih boleh, mau mengambil foto itu masih boleh," kata Jero Wacik di Kantor Kepresidenan, Rabu 24 November 2010.
Wisatawan juga diminta mengikuti anjuran. "Kalau diminta 3 kilometer kosong, ya dikosongkan," kata dia.

Wartawan Kompas Bantah Minta Jatah Saham KS


Kompas masih menyelidiki dan mengumpulkan keterangan agar kasus ini menjadi jelas. Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun membantah wartawannya terlibat dalam kasus dugaan permintaan jatah saham perdana PT Krakatau Steel. Rikard juga membantah keras wartawan Kompas meminta uang Rp400 juta untuk menutup berita miring penjualan saham perdana perusahaan baja plat merah itu.

"Setelah kami lakukan klarifikasi, dia (wartawan Kompas) mengatakan, bahwa tidak mendapatkan dan tidak ikut dalam proses jual beli itu," kata Rikard Bagun dalam jumpa pers di Dewan Pers, Jakarta Pusat, Selasa 23 November 2010.

Rikard mengatakan, memang ada yang membeli saham perdana itu, tetapi dengan melalui prosedur normal. "Dan yang mendapatkan, itu prosedur normal," jelas dia.

Kompas menampik kabar yang menyebut wartawannya meminta uang Rp400 juta agar memberitakan yang baik-baik dalam penjualan saham perdana ini.

"Soal yang uang Rp400 juta itu, dia (wartawan Kompas) tidak lakukan itu," jelas Rikard. Meski begitu, saat ini penyelidikan yang dilakukan Kompas belum rampung.

Kompas akan terus mengumpulkan informasi agar klarifikasi kasus ini menjadi terang-benderang. "Karena, jangan sampai begitu simpang siurnya pemberitaan ini, tetapi substansinya kami tidak tahu persis," jelas dia.

Sumber : vivanews.com

Gaji Rp1,5 Juta, Briptu Nanan Pilih Buka Warung


JAKARTA- Gempuran pemberitaan Rekening Gendut Perwira Polri secara tidak langsung seolah mengesampingkan keberadaan para prajurit yang masih belum sejahtera dan pra sejahtera.

Setidaknya publik mulai berasumsi tak ada lagi polisi miskin lantaran banyak sumber penghasilan lain yang bisa digali di luar gaji. Padahal sejatinya masih banyak anggota Polri yang hidup pas-pasan, dengan hanya mengandalkan gaji.

Tilik saja pengakuan Briptu Nanan Supriyadi yang sudah menjadi anggota selama delapan tahun. Polisi yang bertugas di Ibukota itu hanya bergaji sekira Rp1,5 juta.

Untuk mengakali kebutuhan hidup, dia pun membuka usaha sampingan warung kelontong di daerah Pondok Indah. “Selama tidak mengganggu tugas saya di lapangan, kan tidak apa-apa,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Kondisi dapur Briptu Nanan tentu berbeda 180 derajat dengan para pimpinannya yang diungkap Majalah Tempo dalam laporan utamanya beberapa waktu lalu. Kapolda Kalimantan Timur Mathius Salempang dalam laporan harta kekayaan per 22 Mei 2009 memiliki harta sekira Rp8,5 miliar plus USD 59,842.

Kepala Korps Brimob Polri Irjen Pol Sylvanus Yulian Wenas per 25 Agustus 2005 memiliki dana di rekening sebesar Rp6,5 miliar.

Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Kepolisian Irjen Pol Budi Gunawan dalam laporan harta kekayaannya per 19 Agustus 2008 memiliki rekening berisi uang Rp4,68 miliar.

Kepala Divisi Pembinaan Hukum Kepolisian Badrodin Haiti per 24 Maret 2008 memiliki Rp2,09 miliar dalam rekeningnya plus uang USD4.000. Mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji memiliki Rp1,58 miliar dalam laporan harta kekayaan pada tahun 2008.

Selain data di atas masih ada nama-nama lain perwira Polri lain yang memiliki rekening tambun. Yang dipersoalkan adalah apakah sumber dana miliaran rupiah di rekening para jenderal tersebut sah.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam perbincangannya dengan okezone beberapa waktu lalu, menyatakan isu rekening gendut sejumlah jenderal merupakan kasus lama.

“Pada masa Kapolri Jenderal Sutanto sudah dinyatakan clear. Jadi kalau mau menelusuri lagi harus ditanyakan kepada beliau sampai sejauh mana yang dimaksud dengan clear itu. Kalau memang sudah clear betulan ya sudah. Kan kasihan juga para jenderal dan keluarganya yang mendapat tuduhan,” ujarnya.
 
Sumber : okezone.com
 

Mobil Pelat Merah Dilarang Pakai Premium



Menko Hatta Rajasa: "Kendaraan pelat merah itu kudu (bahasa Jawa: keharusan)." Pemerintah akan mengatur konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, premium untuk penghematan. Untuk itu, pemerintah akan memberi contoh lebih dulu pada kendaraan berpelat merah.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyebutkan, kendaraan pemerintah wajib menggunakan bahan bakar non subsidi. "Kendaraan pelat merah itu kudu (bahasa Jawa: keharusan)," kata dia di Kantor Menko Perekonomian, Selasa 23 November 2010.

Namun, Hatta tidak mengatakan apakah ketentuan itu akan diatur dalam peraturan menteri atau ketetapan lain. "Penggunaan nonsubsidi itu untuk penghematan," ujar dia menekankan.

Seperti diketahui, hari ini rapat koordinasi Menko Perekonomian bersama Ditjen Migas, Kementerian Perdagangan dan Pertamina menyimpulkan bahwa konsumsi bahan bakar tahun ini akan melonjak sampai 38,3 juta kiloliter. "Jumlah ini bertambah 1,8 juta kiloliter kuotanya dari kuota kesepakatan di APBN Perubahan 2010 sebanyak 36,5 juta kiloliter," ujar Dirjen Migas Evita Legowo.

Hal tersebut, dia menambahkan, dipicu pertumbuhan kendaraan saat ini yang terbilang sangat cepat, sehingga diperlukan pengaturannya agar kuota BBM bersubsidi tidak membengkak.

Sementara itu, Menteri Keuangan Agus DW Martowardojo berharap, dengan pengaturan ini alokasi subsidi BBM bisa sampai pada mereka yang memang membutuhkan. "Karena tantangan Indonesia, kita harus jaga subsidi jangan terlalu besar. Untuk itu, perlu lebih targeted bukan umum seperti sekarang yang dinikmati semuanya," katanya.

Kendati demikian, Agus mengaku meski bertambah 1,8 juta kiloliter dari sisi kuota, untuk anggaran subsidi BBM tahun ini tidak akan melampaui. Ini akibat, realisasi anggaran lebih baik yakni dari asumsi nilai tukar Rp9.050 per dolar dari target Rp9.200 dan untuk harga minyak Indonesia (ICP) dari US$80 per barel, kini rata-ratanya adalah US$78 per barel.

Sumber : Vivanews.com

Merapi Meletus, Jembatan Selat Sunda Jalan Terus!


JAKARTA - Meski Gunung Merapi telah mengeluarkan letusan besar sebanyak dua kali pada 26 Oktober dan 5 November lalu dan mengakibatkan ratusan korban jiwa meninggal, hal tersebut disebutkan tidak akan berpengaruh terhadap status Gunung Anak Krakatau. Hingga saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus waspada.

Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar, dengan status waspada Gunung Anak Krakatau tersebut, maka tidak akan menghentikan rencana pemerintah untuk membangun Jembatan Selat Sunda (JSS).

"Krakatau masih berstatus waspada, jadi rencana pembangunan jembatan selat sunda tetap akan berjalan. Kemungkinannya terlalu kecil untuk meletus besar seperti Gunung Merapi," tutur Sukhyar saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (22/11/2010).

Dia mengatakan, bila terjadi letusan, letusan terbesar Gunung Anak Krakatau ini nantinya hanya akan berupa scombolion yakni letusan lava seperti air mancur dengan ketinggian maksimal 500 meter. Adapun dampaknya, katanya, hanya dirasakan sejauh dua kilo meter dari puncak gunung.

"Lagipula kami kan punya tim pemantau di dua pos yaitu di Lampung dan Banten.
Itu realtime, dipantau 24 jam, sehingga dapat mudah terdekteksi," ujarnya.

Beberapa waktu lalu hal senada juga diungkapkan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Badan Geologi Surono. Menurut Surono, Gunung Anak Krakatau itu kecil kemungkinan meletus besar karena hampir tiap tahun selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini Gunung Anak Krakatau ini efektif mengeluarkan letusan. Dengan demikian, letusan yang akan terjadi selanjutnya diperkirakan tidak berpotensi begitu besar.

"Gunung Anak Krakatau kecil kemungkinan bakal meletus besar, karena tidak bisa menghimpun energi besar akibat dalam 10 tahun ini Gunung Anak Krakatau efektif mengeluarkan letusan. Gunung Anak Krakatau tidak mempunyai dampak signifikan bagi Jembatan Selat Sunda," ungkap Surono pada Lokakarya "Kondisi Bahaya Geologi dalam rangka Pembangunan Jembatan Selat Sunda", di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (30/9/2010).

Dia memperkirakan dalam kurun waktu 200 tahun ke depan aktivitas Gunung Anak Krakatau ini tidak akan menimbulkan letusan dahsyat, sehingga dinilai tidak akan mengganggu pembangunan dan aktivitas JSS tersebut. Berdasarkan penelitian, katanya, selang waktu terjadinya dua letusan besar di Gunung Krakatau adalah berkisar 1.500 tahun.

Sekadar informasi, sejak 31 Oktober 2009 status kegiatan Gunung Anak Krakatau diturunkan dari siaga menjadi waspada hingga saat ini. Aktivitas Gunung Anak Krakatau sekarang ini merupakan awal periode aktif kembali setelah periode istirahat sejak Juli 2001 atau dengan jeda letusan enam tahun.

Bila siklus jeda letusan berikutnya mengikuti siklus jeda letusan sebelumnya, maka letusan yang akan datang mungkin terjadi setelah jeda satu atau dua tahun.
Sumber : okezone.com

Foto Gayus Jadi Main-mainan


Foto terdakwa kasus mafia pajak Gayus Tambunan jadi mainan. Tangan-tangan jahil mengedit foto Gayus sedemikian rupa. Bisa tertawa melihat hasil photoshop-nya.

Foto editan pertama, Gayus memakai rambut palsu atau wig dengan berbagai warna dan model. Ada yang warna hijau dengan model rambut kribo. Warna biru dengan model rambut sebahu.

Foto Gayus kedua yang sudah dipelesetkan hampir sama dengan yang pertama. Yang berbeda, ada gambar 'Gayus' memakai topi petani, helm cetok hingga bando warna pink.

Terakhir, gambar orang mirip Gayus sedang mengambil gambar saat menonton turnamen tenis di Bali diganti sedang memotret penyanyi yang sedang bergoyang.

Sebagaimana diberitakan, Polisi mengakui Gayus keluar meninggalkan Rumah Tahanan (Rutan) Markas Komando (Mako) Brigade Mobil (Brimob), Jumat (5/11/2010), dengan keperluan periksa dokter.

Namun, banyak pihak menyangsikan Gayus benar-benar keluar untuk periksa dokter lantaran dia keluar sejak pagi hingga baru kembali ke Rutan Mako Brimob larut malam sekitar pukul 22.30.

Apalagi, kemudian beredar foto orang mirip Gayus yang tengah asyik menonton kejuaraan tenis dunia Commonwealth Bank Tournament of Champions di Nusa Dua, Bali. Orang yang sangat mirip Gayus itu tengah menonton partai Yanina Wickmayer melawan Daniela Hantuchova. 
Sumber : Inilah.com

Gempa 8,5 SR Intai Sumatera Barat


Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman menyatakan bahwa potensi gempa di Mentawai-Siberut, Sumatera Barat, masih cukup besar. Diperkirakan ada energi tersimpan yang bisa memicu gempa hingga 8,5 SR dalam beberapa tahun ke depan.

Danny mengatakan, gempa Mentawai cukup menjadi perhatian para penduduk dan seluruh warga Indonesia.

"Penelitian kita bahwa masih ada potensi gempa berkekuatan sampai 8,5 SR," kata Danny di lingkungan kantor Dewan Pertimbangan Presiden, Jakarta, Jumat 19 November 2010. Gempa di Mentawai beberapa waktu lalu, menurut dia, merupakan bagian dari energi yang dikeluarkan oleh sesar gempa di Mentawai-Siberut.

Menurut data yang berhasil dikumpulkan LIPI bahwa sumber gempa di Mentawai hanya sebagian. Masih ada sumber gempa lain, yakni di Pagai Utara yang membentang sampai Siberut dengan panjang 200-300 kilometer dan lebar 80-100 kilometer.

"Patahan/lempeng gempa ini terus bergerak dan kalau seluruhnya terkumpul bisa mengangkat pulau Siberut sampai 10 meter," kata Danny. Besarnya potensi gempa ini diperkirakan akan setara dengan gempa di Nias pada 2005 lalu.

Menurut penelitian, gempa-gempa berkekuatan besar di daerah selatan Pulau Sumatera ini memiliki ulangan 200 tahunan. Tapi Danny maupun peneliti kegempaan lain tidak ada yang tahu kapan waktu persis gempa besar ini akan terjadi. Ia hanya mengingatkan bahwa saat sekarang adalah tahun-tahun waktunya terjadi.

"Ini (gempa Mentawai) adalah peringatan bahwa kita harus mewaspadai kejadian ini, kalau sampai terjadi bagaimana proses evakuasi, apa yang harus dihadapi dan lainnya," kata dia.

"Ini adalah keharusan, meski tidak tahu waktunya, potensi besar kandungan energi sudah waktunya keluar," katanya. Ini bisa dilihat dari gempa-gempa besar mulai dari Aceh yang terjadi pada 2004, kemudian Nias 2005, dan gempa-gempa besar lain sampai sekarang.

Danny mengingatkan masyarakat terhadap gempa di Simelue yang terjadi pada 1907. Dikisahkan masyarakat, waktu itu banyak korban tewas. Diperkirakan lebih dari 70 persen penduduk tewas. Hal inilah yang mendasari penduduk setempat mewarisi kearifan lokal yang dikenal "Smong".

"Itu karena gempa pelan, dekat palung, volume air yang dipindahkan besar, lapisan cukup tebal, sehingga tsunami besar sekali," katanya.

Sumber : Vivanews.com

Hari Raya Idul Adha, NU dan Muhammadiyah Beda


Muhammadiyah menghitung Idul Adha jatuh pada 16 November. Sementara NU pada 17 November.


Meskipun Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan pemerintah telah menetapkan Idul Adha 1431 Hijriyah jatuh pada Rabu 17 November 2010, diperkirakan sejumlah umat Islam tak serentak merayakannya. 
Dua organisasi Islam terbesar Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) punya hitungan berbeda dalam soal menentukan jatuhnya tanggal 10 Dzulhijjah 1413 Hijriah atau Hari Raya Idul Adha pada tahun ini.
Ketua MUI Kiai Haji Ma`ruf Amin mengatakan MUI bersama pemerintah menetapkan Idul Adha pada 17 November 2010,  berdasarkan perhitungan hisab dan rukyat.  "Ketika memutuskan tanggal 1 Dzulhijjah 1413 H, saat 29 Dzulqa'idah (6 November 2010) ternyata hilalnya di bawah dua derajat, karena itu tak mungkin rukyat atau diistilahkan ijtimak (bulan baru). Jadi, digenapkan 30 Dzulqa'idah. Maka Idul Adha jatuh pada 17 November," ujarnya kepada VIVAnews di Jakarta, Senin 15 November 2010.

Dia menambahkan, kalau pun ada yang mengaku melihat hilal (bulan sabit pertama setelah bulan baru), mestinya bisa ditolak. Sebab, posisinya kurang di bawah dua derajat, atau kemungkinan terjadinya rukyat. "Rukyat itu diterima bila sesuai dengan perhitungan akal, rasa, dan kebiasaan," kata Ma'aruf.

Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan awal bulan pada Kalender Hijriyah. Sedangkan rukyat adalah visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang terlihat pertama kali setelah terjadinya ijtimak (bulan baru). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau memakai alat bantu optik seperti teleskop. 
Jika hilal terlihat, maka pada pada petang (maghrib) waktu setempat maka saat itulah bulan (kalender) baru Hijriyah berlaku.
Perbedaan bukan soal
Meski begitu, Ma'ruf menghargai perbedaan itu dan tidak melarang perayaan Lebaran Haji 1431 H dilaksanakan pada 16 November 2010 atau 9 Dzulhijjah. Hal itu untuk meninggikan semangat persaudaraan dan mencegah terjadinya konflik antarumat.
Sebagian umat Islam, ujar Ma'ruf, kemungkinan akan merayakan Idul Adha pada 16 November 2010, yaitu Muhamadiyah. Hal itu terjadi, kata Ma'ruf,  karena mereka mengaku sudah melihat wujud hilal. "Jadi, berapa pun tingginya sudah dianggap masuk,"
Mantan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah Izzul Muslimin berpendapat, jatuhnya perayaan Idul Adha pada 16 November 2010 sudah berdasarkan hisab hakiki atau sudah dihitung sejak lama bersamaan awal Ramadhan dan 1 Syawal 1431 H. "Jadi, telah disiapkan sejak lama," kata dia saat dihubungi VIVAnews di Jakarta, hari ini. 

Dia menambahkan, perhitungan atau hisab Muhammadiyah sudah dilakukan seperti yang diterapkan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA). "Tapi kita tetap menghargai saudara kita yang merayakan Lebaran Haji pada 17 November nanti, karena mereka berdasarkan rukyat. Jadi berbeda pendapat boleh, yang penting saling menghargai," ujar Izzul.

Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Jawa Timur juga memastikan pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah jatuh pada Selasa, 16 November 2010.

Terkait itu, Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim Nadjib Hamid menjelaskan, telah menerima maklumat dari Muhammadiyah Pusat No 05/MLM/I.0/2010. "Dalam maklumat, ditetapkan 1 Zulhijjah jatuh pada 7 November 2010 dan memastikan pelaksanaan Idul Adha jatuh pada 16 November 2010," kata Nadjib.  

Menurut Nadjib, pada saat ijtimak 29 Dzulqa’idah jatuh pada Sabtu, 6 November 2010 pukul 11.53.04 WIB. Saat itu, tinggi hilal pada saat matahari terbenam di Yogyakarta posisinya di 01 derajat 34 menit 23 detik. Selain itu, Hilal sudah wujud di lokasi Tanjung Kodok, Tuban, Jatim dengan ketinggian 01 derajat 27 menit, 26.11 detik.

Isi maklumat itu diteruskan ke pimpinan wilayah, daerah dan ke seluruh pimpinan cabang dan ranting Muhammadiyah se-Indonesia,

Tanggal berbeda disampaikan Koordinator Rukyatul Hilal Pengurus Wilayah (PW) NU Jatim, Soleh Hayat yang menyatakan Idul Adha kemungkinan jatuh pada 17 November. Ada sejumlah sebab, kata Soleh, perayaan Idul Adha jatuh pada tanggal tersebut.  

Pertama, dalam perhitungan para ahli hisab yang menggunakan kitab-kitab yang jadi rujukan hisab. Dalam kitab Sullamul Nayiren, dari tiga ahli hisab, ada satu yang memutuskan Idul Adha jatuh pada 16 November karena 1 Dzulhijjah jatuh pada 7 November. Sedangkan dua ahli hisab menetapkan awal Dzulhijjah adalah 8 November, sehingga Idul Adha jatuh pada 17 November. 

Sedangkan dalam sistem Muwakhib, awal bulan Dzulhijjah juga dijelaskan jatuh pada 7 November. Hal yang sama juga terjadi pada sistem modern. Sementara itu, dalam kitab empiris hisab rukyah, dari perhitungan tujuh ahli rukyah, tiga ahli menyatakan 1 Dzulhijjah jatuh pada 7 November, sementara sisanya pada 8 November. 

Selain itu, pada 8 November ketinggian hilal berada antara 1-2,3 derajat. "Itu termasuk masih kecil, karena standar imkanur rukyah (ambang batas sempurnanya hilal) minimal dua derajat ke atas," ujar Soleh.

Anggota Badan Hisab Rukyah Kementrian Agama (Kemenag) Jatim itu melanjutkan, akibat adanya perbedaan penentuan awal Dzulhijah, maka sangat mungkin pelaksanaan Idul Adha berlangsung tak serempak.

Meski begitu, untuk memastikan hari Raya Idul Adha PWNU Jatim akan menerjunkan tim rukyatul hilal di delapan lokasi. Di antaranya, di bukit Condro Gresik, Pantai Nambangan Surabaya, Pantai Gebang Bangkalan, Pantai Ngliyep Malang, Pantai Serang Blitar. 

Selain itu, tim rukyatul hilal juga akan melakukan pemantauan di Pantai Khalbut Situbondo, Pantai giliketapang Probolinggo dan pantai Srau Pacitan. "Hasil rukyah itu yang nanti jadi pijakan untuk memastikan kapan pelaksanaan Idul Adha tahun ini," ujarnya.

Perhitungan Lapan
Peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin juga mengaku tahun ini Idul Adha 1431 Hijriyah terancam ada perbedaan. "Ini karena ada perbedaan penentuan awal bulan Dzulhijjah," kata dia.
Menurut Thomas, perbedaan penentuan Idul Adha terjadi karena perbedaan cara perhitungan di antara organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam di Tanah Air. "Akan ada Idul Adha pada 16 dan 17 November, karena perbedaan kriteria awal bulan. Jika menggunakan hilal, Idul Adha terjadi pada 16 November, sedangkan melalui metode rukyat terjadi pada 17 November," ujarnya.
Lapan mengakui, posisi bulan baru yang ditandai terlihatnya hilal sulit dilakukan. Lembaga itu memperkirakan ketinggian bulan pada awal Djulhijjah kurang dari dua derajat. "Walau sudah positif, dengan hitungan rukyat itu belum masuk," katanya.
Perbedaan seperti itu, menurut perkiraan Lapan, juga bakal terjadi pada penentuan Hari Raya Idul Fitri di 2011. Sedangkan pada 2012 dan 2013 ada perbedaan penentuan awal Ramadan. Sementara pada tahun 2014, akan terjadi perbedaan penentuan awal puasa dan hari Lebaran karena tinggi bulan diperkirakan hanya 0,8 derajat. 

Lapan,  kata Thomas,  mengusulkan agar dibuat kriteria baru menetapkan awal bulan untuk penanggalan Islam. Lapan sendiri mengusulkan tinggi hilal seharusnya ditetapkan sebesar empat derajat. "Kriteria astronomi ketinggian di atas empat derajat. Saya usulkan agar penentuan penanggalan juga dilakukan melalui metode ilmiah yaitu menggunakan ilmu astronomi," kata dia.

Sementara itu, Kepala Observatorium Bosscha, Hakim L Malasan menyatakan Hari Raya Idul Adha akan jatuh pada hari Rabu, 17 Nopember 2010. Penentuan ini berdasarkan pengamatan bulan (hilal) yang dilakukan selama 10 hari terakhir di observatorium yang berada di Lembang, Bandung, Jawa Barat itu.

"Memang hari raya itu ada dua versi, antara Selasa dan Rabu. Tapi menurut pengamatan yang kami lakukan akan jatuh pada Rabu," ujar Hakim L Malasan. Pengamatan itu, kata Hakim, dilakukan dengan teropong Teodolit. Teropong sama digunakan saat penentuan Hari Raya Idul Fitri.

Observatorium Bosscha juga telah bekerja sama dengan Kementerian Keagamaan dalam menentukan hari besar keagamaan.

Satgas Mafia Hukum: Gayus Masih Punya Rp 75 Miliar?


Terdakwa kasus mafia pajak Gayus Tambunan memiliki total uang Rp 100 miliar dari jasanya menangani pajak perusahaan-perusahaan besar seperti Grup Bakrie.
Anggota Satgas Mafia Hukum Mas Achmad Santosa menyampaikan, dari Rp 100 miliar total uang Gayus itu, sebanyak Rp 25 miliar telah dibagikan kepada hakim, jaksa, polisi, dan pengacara Haposan Hutagalung dalam perkara suap di Pengadilan Negeri Tangerang.

"Gayus bercerita pembukaan blokir (Rp 25 miliar) yang diberikan ke masing-masing penegak hukum. Jumlahnya itu hasil pemetaan dari Haposan. Total awalnya Rp 15 miliar, terakhir dia mengatakan, Rp 5 miliar untuk jaksa, Rp 5 miliar untuk hakim, Rp 5 miliar untuk polisi, Rp 5 miliar untuk Haposan, dan Rp 5 miliar untuk dirinya," ujar Achmad Santosa saat bersaksi untuk Haposan Hutagalung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (12/11/2010).
Lantas, ke mana sisa uang Gayus sebanyak Rp 75 miliar? Saat dikonfirmasi seusai persidangan, Achmad Santosa yang biasa dipanggil Ota itu tidak dapat memastikan ke mana perginya uang Rp 75 miliar milik Gayus. "Mungkin sudah disita polisi, kita tidak tahu," katanya.

Sebelumnya, kata Ota, Adnan Buyung Nasution selaku kuasa hukum Gayus mengusulkan agar uang Rp 75 miliar milik Gayus tersebut disimpan dalam escrow account supaya lebih transparan. Namun, apakah uang tersebut sudah dipindahkan ke escrow account, hanya kepolisian yang mengetahuinya.
Menurut keterangan Buyung dalam pemberitaan sebelumnya, uang senilai Rp 75 miliar yang disimpan di save deposit box milik Gayus tersebut telah disita polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Namun hingga kini, menurut Buyung, pemeriksaan lebih lanjut tersebut tidak juga dilakukan. Atas dasar itulah, Gayus khawatir jika uangnya menguap tidak jelas. "Nah, itu kami tidak tahu pemeriksaannya sudah sampai mana, hartanya disimpan di mana, jangan-jangan menguap," kata Adnan Buyung, Senin (1/11/2010)

sumber

Gempa 5,6 SR di Bantul, Petugas BPPTK Panik



 
 
Gempa kembali terjadi di Yogjakarta. Setelah dua hari lalu digoyang gempa 3,8 Skala Richter, hari ini gempa kembali terjadi dengan kekuatan lebih besar 5,6 Skala Richter.

Informasi yang didapat dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika menyebutkan gempa terjadi pada pukul 14.03.

Lokasi gempa di titik 8,98 Lintang Selatan-110,08 Bujur Timur. Gempa berada di kedalaman 10 kilometer, jaraknya 125 km barat daya Bantul. Gempa dipastikan tidak menyebabkan tsunami.

Gempa ini dirasakan hingga ke kota Yogyakarta. Petugas BPPTK dan wartawan yang sedang memantau aktivitas Gunung Merapi kaget begitu bumi berguncang.

Sontak mereka berhamburan ke luar. "Awalnya hanya goyang-goyang biasa, terakhir goyangan cukup kencang sehingga kami lari semua," kata salah satu wartawan.
Kepanikan juga sempat menimpa warga Bantul. Retno Hemawati, warga Kalisat, Triharjo, Pandak, Bantul mengaku kaget. Bersama anggota keluarga sempat berhamburan ke luar rumah. "Tapi gempa kali ini tidak sekuat dulu. Jadi kepanikan hanya sebentar," katanya 
 

Obama Datang, Warga Jangan Takut Macet



 
Menjelang lawatan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama ke ibukota pada 9 dan 10 Oktober 2010, Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta bekerja sama dengan Direktorat Lalulintas Polda Metro
Jaya terkait penanganan lalulintas dan keamanannya.

Polda Metro Jaya akan menangani rekayasa lalu lintas dalam acara kenegaraan menyambut kedatangan orang nomor satu negara adidaya itu.

"Semua yang berkaitan dengan koordinasi sudah kami lakukan. Kami
sudah lakukan gladi karena ada beberapa peran kami di dalamnya," ujar Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, di Balaikota, Jakarta, Senin, 8 November 2010.

Fauzi mengaku belum mendapat informasi jalan mana saja yang akan ditutup atau dialihkan selama kedatangan Obama.

Namun, kata Fauzi, warga Jakarta tak perlu takut karena Polda Metro Jaya akan memberikan informasi jalan mana saja yang dapat dilalui sehingga tidak terjebak kemacetan. Diharapkan juga tidak akan terjadi kemacetan total.
"Tidak perlu khawatir. Kalau memang tidak perlu ditutup maka ya tidak ditutup," ungkapnya.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Udar Pristno mengaku, telah berkoordinasi dengan Ditlantas Polda Metro Jaya. Petugas Dishub DKI yang diturunkan membantu memperketat penjagaan di simpang jalan yang rawan akan kemacetan. "Pengumuman rekayasa lalu lintas disampaikan Dirlantas. Kami perketat agar Metromini tidak ngetem (parkir menunggu penumpang) sembarangan," urainya.

Mentawai Minta Tanggap Darurat Diperpanjang



Pemkab Mentawai minta masa tanggap darurat diperpanjang 1 bulan. Ada banyak penghalang. Gempa 7,2 skala Richter di Mentawai memicu  tsunami yang menghantam pesisir barat Pagai Utara, Pagai Selatan, Sipora Selatan, Senin malam, 25 Oktober 2010.

Sebanyak 447 orang tewas dan puluhan lainnya masih dinyatakan hilang. Sehari kemudian, pada 26 Oktober 2010, status tanggap darurat selama dua minggu diberlakukan di Mentawai.

Jelang berakhir besok, Selasa (9/11), Pemerintah Kabupaten Mentawai, Sumatera Barat, meminta masa tanggap darurat diperpanjang.

“Kita sudah usulkan ke BNPB (Badan Nasional Penanggulangan  Bencana) agar masa tanggap darurat ini ditambah. Paling tidak hingga satu bulan ke depan lah,” kata Bupati Mentawai Edison Salaleubaja dari Mentawai saat dihubungi VIVAnews, Senin, 8 November 2010.

Perpanjangan ini dilakukan mengingat sejumlah agenda tanggap darurat terganjal karena dihadang cuaca.

“Hari kerja selama tanggap darurat terhadang cuaca, mulai dari hujan, angin kencang, dan gelombang tinggi,” ungkapnya.

Hingga saat ini, ia mengatakan, persediaan logistik bagi korban bencana di kepulauan terluar Sumbar itu masih aman. Namun, psikologis masyarakat masih belum membaik dan memilih tinggal di pengungsian pasca tsunami.

“Walaupun dusunnya tidak terkena bencana, mereka tetap mengungsi karena trauma dengan kejadian ini (tsunami).”

Tercatat hingga saat ini jumlah pengungsi mencapai angka 15.000 orang. 

Obama Datang, SBY Kembali ke Jakarta Senin Esok



Yogyakarta - Presiden SBY, yang saat ini berkantor di Gedung Agung Kota Yogyakarta sejak Jumat 5 November malam, dijadwalkan akan bertolak kembali ke Jakarta Senin 8 November besok. Hal ini dilakukan terkait kedatangan dua tamu negara yaitu Presiden AS dan Perdana Menteri Austria.

"Ya, termasuk dalam persiapan kunjungan dua kepala negara tersebut," kata Jubir Kepresidenan, Julian Aldrim Pasha, kepada detikcom, Minggu (7/11/2010).

Presiden direncanakan akan terbang dari Bandara Ahmad Yani Semarang, setelah menempuh jalan darat. Namun pada pukul berapa Presiden akan bertolak, belum diketahui.

Julian menjelaskan, untuk kunjungan kehormatan dari UNDP/Norwegia dan Pimpinan Partai Komunis Cina besok, Presiden telah mendelegasikannya kepada Wapres Boediono.

"Untuk penanganan bencana Yogyakarta dan Jateng diserahkan kepada Menko Kesra mewakili unsur Pemerintah Pusat, dan kendali operasi penanganan dan pengendalian bencana di bawah koordinasi Kepala BNPB," kata Julian.

Sementara itu, Presiden Obama saat ini tengah berada di India. Gedung Putih memantau terus perkembangan letusan Merapi dan hingga saat ini belum ada rencana untuk menjadwal ulang kedatangan. Obama dijadwalkan berada di Jakarta pada 9-10 November.

Sumber

Presiden Tiba di Gedung Agung Yogyakarta Menerobos Hujan Abu



Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono dan rombongan, Sabtu (6/11/2010) sekitar pukul 12.50 WIB tiba di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta, DIY.

Presiden saat tiba di Gedung Agung dan keluar dari mobil dinas pelat merah Indonesia 1 menggunakan masker dan mengenakan baju hijau yang dibalut dengan rompi warna cokelat, sedangkan Ibu Negera Ani Yudhoyono menggunakan masker dan mengenakan kemeja warna cokelat.

Sejumlah menteri yang mendampingi Presiden, antara lain Menkopolhukam Djoko Suyanto, Kapolri Komjen Timur Pradopo, Panglima TNI Laksamana Agus Sumartono, Menko Kesra Agung Laksono, Menteri ESDM Darwin Saleh, Menteri Pekerjaaan Umum Djoko Kirmanto, Menhub Freddy Numberi, dan Mensos Salim Segaf. Presiden dijadwalkan setelah tiba di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta akan menggelar rapat koordinasi penanganan bencana Gunung Merapi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Sebelumnya Presiden Susilo Bambang Yudoyono di Istana Negara pada Jumat mengatakan, akan menangani dan memantau secara langsung penanganan bencana Gunung Merapi di Yogyakarta dengan menginap dan berkantor di Istana Kepresidenan Gedung Agung Yogyakarta. Namun hingga kini belum diketahui sampai kapan Presiden Susilo Bambang Yudoyono akan berkantor di Gedung Agung Yogyakarta.

Sumber

Merapi Bergemuruh lagi pukul 06.00 WIB tadi !


 

VIVAnews - Suara gemuruh kembali terdengar dari perut Merapi. Suara gemuruh terjadi sejak pukul 06.00 WIB.

Gemuruh yang dikeluarkan Merapi ini terdengar hingga kilometer 13. Hingga pukul 06.30 WIB suara itu masih terdengar.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Badan Geologi Subandriyo menegaskan, erupsi Merapi memang masih berlangsung.

"Kalau terdengar gemuruh itu artinya ada tekanan magma atau gas dari dalam," kata Subandriyo saat dihubungi VIVAnews, Minggu 7 November 2010.

Subandriyo mengimbau kepada warga sekitar Merapi untuk mengikuti imbauan BPPTK agar mengosongkan wilayah sejauh 20 kilometer dari puncak Merapi. "Tetap bertahan dalam kondisi sekarang. Merapi masih rentan," katanya.

Hingga pukul 06.00 WIB, erupsi Merapi sudah berlangsung 86 jam tiada henti. Letusan Merapi kali ini menambahkan kawah baru yang terbentuk berdiameter 400 meter mendekati kawah letusan tahun 1872 yaitu 480x650 meter.

Sebelumnya Kepala Badan Geologi, Kementerian ESDM R Sukhyar mengatakan, letusan kali ini berbeda dan lebih besar dibanding letusan tahun 1997, 2001 maupun 2006. Berdasarkan rekaman aktivitas Merapi selama ini, letusan kali ini hampir menyamai letusan tahun 1872.

Selain letusan yang terus menerus, indikator lainnya adalah material yang dikeluarkan mencapai sekitar 100 juta meter kubik, energi yang dikeluarkan juga tergolong besar.

Banjir Lahar Dingin Merapi Mencapai Kali Senowo Magelang, Warga Panik


 

Magelang - Lahar dingin akibat erupsi Gunung Merapi sudah mengarah ke Kali Senowo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Ratusan warga yang sempat naik ke atas untuk memberi makan ternak mereka akhirnya memilih untuk turun kembali.
"Saya kembali ke rumah sebentar mau mengambil gabah untuk digilingkan, sebagai tambahan makan untuk di pengungsian. Tapi karena kita lihat kali sudah dipenuhi lumpur, akhirnya kita turun kembali," ujar Nora, warga Sawang, Magelang, Minggu (7/11/2010).
Nora juga mengatakan, lahar dingin yang mengalir di kali tersebut cukup deras. Terlihat batu-batu besar ikut tersapu oleh derasnya air.
"Ada juga batu besar, kandang kerbau, serta batang dan ranting pohon yang ikut tersapu, sampai jembatan yang ada di atas sungai juga terkena percikan lahar," katanya.


Kali Senowo ini sendiri berada di radius 7 Km dari puncak Merapi. Meskipun sebelumnya letusan pada Jumat (5/11) lalu kembali terjadi, lahar dingin belum mencapai kali ini.
"Baru hari ini ada aliran lahar itu," tambah Nora.
Petugas Satkorlak juga mengatakan, saat ini hujan deras tengah mengguyur puncak Merapi. Sehingga kemungkinan besar lahar dingin yang akan mengalir bertambah deras.
"Di atas lagi hujan deras, kemungkinan lahar dingin yang mengalir akan bertambah deras," katanya.
Aliran lahar tersebut membuat warga yang sempat kembali ke rumahnya panik. Mereka terlihat berlari-lari meninggalkan kawasan Kali Senowo yang saat ini dalam keadaan gerimis.


Beberapa petugas Brimob yang berjaga disekitar desa tersebut sudah berusaha menghalau warga yang tetap bersikeras ingin melihat rumahnya. Namun dengan alasan hanya sebentar warga nekat berangkat.
Banjir lahar dingin merupakan ancaman paling berbahaya selain awan panas Merapi. Banjir lahar memiliki daya dobrak luar biasa yang mampu merusak infrastruktur seperti perumahan, jalan, dsb.

Bencana Merapi Aneh Bin Ajaib, Padi Tak Tersentuh Lahar



SLEMAN, KOMPAS.com — Hulu Sungai Gendol di wilayah atas Cangkringan, Sleman, yang berjarak sekitar 5 km dari puncak Merapi, berubah menjadi gunungan setelah tertimbun material vulkanik yang dimuntahkan Merapi pada Kamis (4/11/2010) malam.

"Sebelum terimbun, sungai ini lebar dan dalam, kira-kira sedalam 30 meter. Seperti jurang kalau dilihat dari tepi sungai," kata Suwarjo (42), penduduk setempat, yang meninggalkan lokasi pengungsian untuk menengok rumahnya.

Ketika Antara mendatangi lokasi pada Sabtu (6/11/2010) siang dan menyaksikan hulu sungai itu dari jarak 5 meter, Suwarjo berteriak untuk memperingatkan bahwa material itu masih mengandung bara.

Bagi orang luar, bukan penduduk Cangkringan, fenomena sungai Gendol itu mencengangkan. Tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa di bawah ribuan ton lahar itu ada sebuah sungai sedalam jurang. Aroma belerang yang menyengat tercium di kawasan berbahaya ini.

Di sekitar hulu sungai terdapat perkampungan penduduk yang sudah mengungsi. Atap rumah-rumah dan daun-daun pepohonan besar tertutupi abu dan pasir.

Kebun salak luluh lantak, porak-poranda. Cangkringan menjadi kawasan mati, dengan kerusakan yang masif.

Kawasan lereng Merapi yang mengalami kehancuran di mana-mana terjadi di Desa Glagaharjo. Sepanjang jalan menuju puncak Merapi, pohon-pohon bertumbangan. Tiang listrik dari beton patah. Tiang besi telepon pun roboh, membuat saluran kabel-kabelnya terburai.

Sejumlah rumah penduduk tampak berantakan. "Hujan pasir campur lahar membuat semuanya seperti ini," kata seorang penduduk setempat yang sedang menengok rumahnya.

Pemadangan di Cangkringan yang mengalami kerusakan di mana-mana itu terasa magis. Semua pohon besar bisa tumbang atau dahan-dahannya patah. Daun-daun pohon kelapa lunglai berwarna coklat kusam setelah tertimpa hujan pasir dan lahar. Perkebunan salak morat-marit. Tanaman jagung hanya tinggal onggokan kusam di pematang.

Namun, hamparan padi yang baru disemai, yang baru setinggi sepuluh senti meter, sama sekali utuh dengan warna kehijauan yang menyegarkan.

"Aneh bin ajaib. Pohon besar bertumbangan. Padi yang baru tumbuh itu seperti tak tersentuh lahar Merapi," komentar seorang yang mengantar Antara memasuki wilayah maut itu.

Pengamatan lapangan di Glagaharjo itu tak berlangsung lama karena seorang relawan yang datang mengingatkan untuk segera menjauh dari puncak Merapi.

Suara hujan angin disertai gelegak seperti air mendidih, yang datang dari perut Merapi itu, semakin menyadarkan bahwa Merapi bisa muntah sewaktu-waktu.

Aktivis-relawan penolong korban Merapi itu seperti mulai mengenal tabiat Merapi. Dia segera menarik pegas motornya dan melaju menjauh dari puncak Merapi. Dia tak mau berpacu melawan kecepatan lahar Merapi yang oleh pakar geologi diibaratkan sekencang mobil Formula Satu itu.

Sumber


Add to Google

Belum menemukan informasi yang anda cari? ketik keyword lebih spesifik :