Space Iklan

banner adsbanner adsbanner adsbanner ads

Entri Populer

Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Insider Trading, FBI 'Acak-Acak' 3 Kantor Hedge Fund


NEW YORK - FBI melakukan pemeriksaan atas tiga perusahaan pengelola dana (hedge fund) yang diperkirakan melakukan insider trading sebesar USD1,7 triliun di pasar saham Amerika Serikat (AS).

Jaksa federal juga telah mempersiapkan diri guna membongkar serangkaian kasus insider trading yang diduga dilakukan beberapa hedge fund, konsultan dan bankir di Wall Street.

Dua dari hedge fund yang diperiksa adalah Diamondback Capital Management LLC dan Level Global Investor LP, yang masing-masing berbasis di Connecticut dan dijalankan oleh mantan manajer Steven Cohen SAC Capital Advisors, salah satu hedge fund yang paling terkenal dalam masalah lindung nilai.

Selain itu, sebuah perusahaan yang berbasis di Boston, Loch Capital Management juga diperiksa. Loch Capital dianggap memiliki hubungan dekat dengan seorang saksi yang bersalah dalam penyelidikan insider trading di Galleon Group.

"Departemen Kehakiman berjanji akan melakukan pendekatan yang lebih 'ngotot' untuk kejahatan kerah putih untuk menuntaskan pemeriksaan," kata profesor City University of New York's John Jay College of Criminal Justice, Eugene O'Donnell seperti dikutip dari Reuters, Selasa (23/11/2010).

Juru bicara Biro Investigasi Federal di New York dan Boston mengatakan pihaknya telah melakukan penyelidikan untuk mengeksekusi waran sehubungan dengan investigasi yang sedang berlangsung.

Sekira jam 10 pagi, agen FBI, termasuk satu yang mengenakan kaus, menandatangani kantor Diamondback dan berteriak ke ruang perdagangan. Mereka memerintahkan sekitar 60 karyawan untuk berhenti bekerja segera dan menggiring mereka ke dalam ruang konferensi selama sekitar satu jam.

Sementara itu, saksi penggeledahan yang juga merupakan karyawan melihat agen membawa lima kotak kardus dari bangunan perumahan kantor Loch dan deposito mereka dalam sebuah minivan berwarna perak.
 
Sumber : okezone.com

Bailout Irlandia Picu Harga Minyak Naik ke USD83/Barel


SINGAPURA - Harga minyak mentah dunia kembali menanjak mendekati USD83 per barel pada perdagangan di Asia siang hari ini. Kenaikan tersebut dipicu dari bailout besar-besaran yang dilakukan Irlandia di sektor perbankan yang bermasalah yang menyebarkan kekhawatiran investor bahwa krisis utang bisa menyebar di seluruh Eropa.

Sebagaimana dikutip dari Reuters, Senin (22/11/2010), harga minyak mentah untuk pengiriman bulan Januari naik 62 sen menjadi USD82,6 per barel di perdagangan elektronik di New York Merchantile Exchange (Nymex), dimana pada akhir pekan lalu harga minyak berada dikisaran USD81,98 per barel.

Irlandia telah mengumumkan akan menerima pinjaman bersyarat dari Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang ukuran dan kondisinya akan dinegosiasikan dalam beberapa minggu mendatang.

Berita tentang bailout Irlandia tersebut telah membantu memperkuat Euro serta membuat harga minyak mentah yang diperdagangkan dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor bermata uang Euro. Mata uang Euro naik menjadi USD1,3761 per Euro, sementara pada penutupan Jumat lalu berada di USD1,3673 per Euro.

Sejumlah analisis minyak memperkirakan bahwa hal tersebut sebagai sebuah sinyal baru bahwa pertumbuhan konsumsi minyak global meningkat yang juga ditopang oleh peningkatan harga minyak mentah.

"Hanrga minyak mentah harus berada di level support diatas USD80 per barel untuk memberikan kekuatan fundamental yang mendasarinya. Berdasarkan data terakhir terus menunjukkan kecepatan yang fenomenal dari pemulihan permintaan minyak global," ungkap analisis Barclays Capital dalam laporannya.

Pada perdagangan Nymex lainnya untuk kontrak Desember, minyak pemanas naik 1,1 sen menjadi USD2,29 per galon dan bensin naik 1,5 sen menjadi USD2,14 per galon. Sementara itu, gas alam ikut naik 4,9 sen menjadi USD4,21 per 1.000 kaki kubik. Di London, minyak mentah jenis Brent juga naik 68 sen menjadi USD85,02 per barel di bursa ICE Futures.
Sumber : okezone.com

Merapi Meletus, Jembatan Selat Sunda Jalan Terus!


JAKARTA - Meski Gunung Merapi telah mengeluarkan letusan besar sebanyak dua kali pada 26 Oktober dan 5 November lalu dan mengakibatkan ratusan korban jiwa meninggal, hal tersebut disebutkan tidak akan berpengaruh terhadap status Gunung Anak Krakatau. Hingga saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus waspada.

Menurut Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar, dengan status waspada Gunung Anak Krakatau tersebut, maka tidak akan menghentikan rencana pemerintah untuk membangun Jembatan Selat Sunda (JSS).

"Krakatau masih berstatus waspada, jadi rencana pembangunan jembatan selat sunda tetap akan berjalan. Kemungkinannya terlalu kecil untuk meletus besar seperti Gunung Merapi," tutur Sukhyar saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (22/11/2010).

Dia mengatakan, bila terjadi letusan, letusan terbesar Gunung Anak Krakatau ini nantinya hanya akan berupa scombolion yakni letusan lava seperti air mancur dengan ketinggian maksimal 500 meter. Adapun dampaknya, katanya, hanya dirasakan sejauh dua kilo meter dari puncak gunung.

"Lagipula kami kan punya tim pemantau di dua pos yaitu di Lampung dan Banten.
Itu realtime, dipantau 24 jam, sehingga dapat mudah terdekteksi," ujarnya.

Beberapa waktu lalu hal senada juga diungkapkan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Badan Geologi Surono. Menurut Surono, Gunung Anak Krakatau itu kecil kemungkinan meletus besar karena hampir tiap tahun selama kurun waktu sepuluh tahun terakhir ini Gunung Anak Krakatau ini efektif mengeluarkan letusan. Dengan demikian, letusan yang akan terjadi selanjutnya diperkirakan tidak berpotensi begitu besar.

"Gunung Anak Krakatau kecil kemungkinan bakal meletus besar, karena tidak bisa menghimpun energi besar akibat dalam 10 tahun ini Gunung Anak Krakatau efektif mengeluarkan letusan. Gunung Anak Krakatau tidak mempunyai dampak signifikan bagi Jembatan Selat Sunda," ungkap Surono pada Lokakarya "Kondisi Bahaya Geologi dalam rangka Pembangunan Jembatan Selat Sunda", di Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (30/9/2010).

Dia memperkirakan dalam kurun waktu 200 tahun ke depan aktivitas Gunung Anak Krakatau ini tidak akan menimbulkan letusan dahsyat, sehingga dinilai tidak akan mengganggu pembangunan dan aktivitas JSS tersebut. Berdasarkan penelitian, katanya, selang waktu terjadinya dua letusan besar di Gunung Krakatau adalah berkisar 1.500 tahun.

Sekadar informasi, sejak 31 Oktober 2009 status kegiatan Gunung Anak Krakatau diturunkan dari siaga menjadi waspada hingga saat ini. Aktivitas Gunung Anak Krakatau sekarang ini merupakan awal periode aktif kembali setelah periode istirahat sejak Juli 2001 atau dengan jeda letusan enam tahun.

Bila siklus jeda letusan berikutnya mengikuti siklus jeda letusan sebelumnya, maka letusan yang akan datang mungkin terjadi setelah jeda satu atau dua tahun.
Sumber : okezone.com

Kenapa Ekonomi Indonesia Geser Jepang 2030?


Indonesia akan masuk 10 raksasa ekonomi 2020, dan lima besar pada 2030.

Pada 2030, ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengalahkan Jepang. Pada tahun itu, Indonesia menempati peringkat ke lima negara terbesar, sedangkan Jepang peringkat ke enam.

Dalam laporan khusus Stanchart berjudul "The Super-Cycle Report", Indonesia mulai menjadi negara bersinar yang semula menempati peringkat ke-28 pada 2000, bakal menjadi salah satu raksasa ekonomi dunia dalam dua dekade mendatang. Berada di posisi kelima, Indonesia akan tampil mendampingi China, Amerika Serikat, India dan Brazil.

Laporan Stanchart sesungguhnya menambah daftar beberapa laporan lembaga keuangan dunia sebelumnya yang meyakini Indonesia bakal menjadi pemain terkemuka dalam beberapa dekade mendatang.
Sebelumnya, Goldman Sachs Group memperkenalkan empat negara calon kekuatan ekonomi baru dunia pada 2020 dengan sebutan BRIC, kepanjangan dari Brazil, Rusia, India dan China. BRIC akan menjadi kekuatan ekonomi paling dominan pada 2050. 

Selain BRIC, Goldman Sachs membuat istilah baru, yakni Next11. Ini mencakup Indonesia, Turki, Korea Selatan, Meksiko, Iran, Nigeria, Mesir, Filipina, Pakistan, Vietnam dan Bangladesh. 

Lembaga keuangan lainnya, Morgan Stanley malah mengusulkan tambahan Indonesia pada BRIC menjadi BRICI. Alasannya, dalam lima tahun ke depan, lembaga terkemuka ini memperkirakan PDB Indonesia bakal mencapai US$800 miliar. 

Majalah bergengsi The Economist, pada Juli 2010 juga memasukkan Indonesia sebagai calon kekuatan ekonomi baru pada 2030 di luar BRIC. The Economist mengenalkan akronim baru dengan sebutan CIVETS, kepanjangan dari Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey dan South Africa. 

Laporan Stanchart menyebutkan negara-negara berkembang akan melampaui negara maju dengan lebih baik. Akibatnya, keseimbangan kekuatan global ekonomi akan bergeser tegas dari Barat ke Timur.
Pemicunya adalah peningkatan perdagangan, terutama pada pasar-pasar dari negara berkembang, industrialisasi yang pesat, urbanisasi dan meningkatnya masyarakat kelas menengah di negara berkembang.

"Asia akan mendorong sebagian besar dari pertumbuhan global selama 20 tahun ke depan," kata Stanchart.

***
Saat ini, Indonesia yang merupakan kekuatan ekonomi terbesar di kawasan ASEAN memang sudah masuk dalam jajaran 20 kekuatan ekonomi dunia yang tergabung dalam forum G-20. Namun, Indonesia belum masuk ke dalam 10 negara besar dunia.
Namun, seperti dilaporkan Stanchart, pada 2020 Indonesia bakal masuk peringkat 10 raksasa ekonomi dunia dengan total PDB US$3,2 triliun. Sementara pada 2030, Indonesia bakal mengalahkan Jepang yang melorot ke peringkat enam dari peringkat lima 2020. Pada saat itu, PDB Indonesia diperkirakan mencapai US$9,3 triliun.
Pertanyaannya, mengapa Indonesia bakal menjadi kekuatan baru ekonomi dunia seperti halnya China dan India?
Menurut Stanchart, negara-negara ini memiliki suplai tenaga kerja yang murah dan produktif mendukung pertumbuhan negara Asia yang diperkirakan tumbuh rata-rata 5,2 persen.
Khusus Indonesia, menurut Stanchart, akan menjadi negara bersinar lantaran juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen dalam dua dekade mendatang. Pertumbuhan ini didukung oleh komoditas ekspor. "Indonesia bahkan seharusnya bisa mendepak Rusia dalam kelompok BRIC," tulis laporan Stanchart. 

Namun, untuk menggapai impian besar tersebut, Indonesia dan negara-negara Asia lainnya menghadapi sejumlah tantangan. Di antaranyar adalah perlunya meningkatkan basis manufaktur agar mempunyai nilai tambah untuk memasok barang setengah jadi dan barang modal.

Selain itu, Indonesia juga harus mengatasi kurangnya infrastruktur, dan sektor jasa harus melengkapi sektor manufaktur untuk menambah dorongan bagi pertumbuhan ekonomi. 

Obama Diragukan Bisa Buka Pasar Ekspor RI



 
 
Kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia memiliki tujuan yang sama dengan kunjungannya ke India, yaitu memperoleh kesepakatan kerja sama ekonomi, membuka pasar untuk menciptakan pekerjaan sebanyak-banyaknya bagi warga Amerika Serikat.

Namun, Wakil Ketua Kamar Dagang Amerika di Indonesia, James Castle, meragukan Obama dapat membuka banyak pasar ekspor Amerika ke Indonesia. Sebab, kata dia,  peraturan dagang Indonesia akan menghambat usaha AS untuk menggandakan nilai ekspor.

Castle menjelaskan bahwa ekspor ke Indonesia penting bagi AS. Namun, hal tersebut terkendala oleh keengganan pemerintah Indonesia, melalui peraturannya, untuk membuka pasar baru bagi ekspor dari Amerika.

Dia mengatakan bahwa Indonesia memiliki kecenderungan memihak kepada perusahaan lokal ketimbang perusahaan asing dalam pengadaan barang. Beberapa kebijakan perdagangan Indonesia, ujarnya, juga menerapkan hal yang sama. Akibatnya, ini akan menghambat usaha AS membuka pasar bagi ekspor utamanya, yaitu farmasi, energi dan telekomunikasi.

“Pemerintah Indonesia belum memutuskan peranan apa yang akan dimainkan oleh sektor swasta,” ujar Castle seperti dilansir situs Washington Post.
Apalagi, kata Castle, pemerintah Indonesia belum melihat usaha yang signifikan dari AS dalam usaha untuk meningkatkan hubungan ekonominya.
Sementara negara-negara yang lain telah menanamkan investasi serta memberikan bantuan ke Indonesia sejak 15 tahun lalu.

“Negara-negara lain datang dengan modal yang besar untuk mendukung bisnisnya di Indonesia. Sementara itu Amerika datang tidak membawa apa-apa, lalu mereka mengeluh mengenai aksesnya,” ujar Castle merujuk kepada komitmen Jepang untuk membantu fasilitas jalan dan pelayaran Indonesia sebesar US$54 miliar.

Castle mengatakan bahwa China, Jepang dan Korea Selatan telah memiliki jaringan bisnis yang kuat di Indonesia sejak 15 tahun  lalu. Malaysia dan Australia juga merasakan keuntungan yang sama bekerja sama dengan Indonesia.
Sementara, Amerika dinilainya masih mempunyai peranan yang kecil terhadap perekonomian Indonesia. “Indonesia jadi prioritas Gedung Putih, namun hasilnya di pasar sangat mengecewakan,” ujarnya.

Pemerintah AS telah mengidentifikasi negara-negara di Asia yang diyakini dapat mewujudkan hal itu, dan Indonesia adalah salah satunya.

Pada kunjungannya ke India yang berakhir hari ini, Obama berhasil mengantongi kesepakatan perdagangan senilai US$10 miliar untuk kerjasama ekspor AS dengan India. Dengan angka itu, akan tercipta sebanyak 54.000 lapangan pekerjaan baru bagi rakyat AS.

Pencapaian ini tentu penting bagi Obama yang sedang dikritik di dalam negeri akibat meningkatnya jumlah pengangguran di AS.

RI Jangan Jadi Pasar Rebutan China-Amerika



 
 
Indonesia harus kerja keras, jangan sampai menjadi sekadar pasar bagi dua negara itu. Presiden Amerika Serikat Barack Obama datang ke Indonesia hari ini. Kunjungannya itu ditengarai untuk melobi pemerintah Indonesia guna meminimalkan upaya peningkatan kerja sama ekonomi RI dengan China.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dari Fraksi Golongan Karya (Golkar), Hajrianto Thohari memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Sebab, baik Amerika maupun China sekarang sedang bersaing untuk memperluas pengaruhnya sebagai dua raksasa ekonomi di dunia.

"Itu make sense saja saya kira. Kami kan tahu, China sekarang menjadi salah satu negara yang sangat berpotensi jadi adidaya di dunia," kata Hajrianto di gedung DPR, Jakarta, Selasa 9 November 2010.
Implikasi untuk menjadi adidaya itu, dia melanjutkan, akan ada perluasan pengaruh di berbagai bidang kehidupan. "Jadi kalau kemudian Amerika dan China ada semacam kompetisi untuk menjadi yang paling berpengaruh di dunia, itu saya kira wajar saja," tuturnya.
Upaya itu dinilai sebagai konsekuensi logis dari kemajuan kedua negara, terutama di bidang ekonomi.

Apakah dengan begitu Indonesia bisa menjadi pasar yang diperebutkan China dan Amerika? Hajrianto cenderung tidak berpikir ke arah itu, karena menurut dia, justru Indonesia yang harus memanfaatkan pasar kedua negara besar tersebut.

Dari jumlah penduduk, Indonesia sebenarnya paling kecil, atau sekitar 230 juta jiwa. China berpenduduk sekitar 1,3 miliar jiwa, sedangkan Amerika hampir 300 juta jiwa. "Jadi, sebetulnya Indonesia yang lebih memiliki peluang untuk memanfaatkan pasar kedua negara daripada dijadikan pasar," kata dia.

Untuk itu, Hajrianto menambahkan, Indonesia harus bekerja lebih keras, sehingga tidak menjadi sekadar pasar bagi kedua negara tersebut. Indonesia harus menjadikan kedua negara yang jumlah penduduknya lebih banyak itu sebagai pasar bagi Indonesia.

Dia melanjutkan, pemerintah Indonesia harus memperhitungkan tawaran keluasan manfaat yang dapat diberikan baik oleh Amerika maupun China untuk keuntungan kepentingan nasional.

"Amerika pun harus memberi banyak manfaat untuk Indonesia. Kalau tidak bisa memberi manfaat, ya untuk apa dekat-dekat dengan Amerika, tapi kemudian jauh dengan China. Hal yang sama harus dikatakan kepada China," tutur Hajrianto.

Hajrianto menyarankan, politik luar negeri Indonesia harus dikelola lebih cerdas dan canggih dalam menghadapi kedua negara yang nyaris menjadi super power dunia itu. "Jangan sampai diperalat kedua negara. Tetapi, pergunakan untuk mengambil manfaat yang sebesar-besarnya demi kepentingan nasional," kata dia. (art)


Add to Google

Belum menemukan informasi yang anda cari? ketik keyword lebih spesifik :